Raja Naipospos: Sejarah, Silsilah, dan Warisan Persatuan "Silima Saama"
Dalam kekayaan sejarah suku Batak Toba, tarombo (silsilah) bukan sekadar catatan nama leluhur, melainkan identitas yang mengikat ribuan orang dalam satu pertalian darah. Salah satu leluhur besar yang memiliki sejarah unik dan keturunan yang sangat besar adalah Raja Naipospos.
Dikenal dengan julukan "Naipospos Silima Saama, Pitu Marga", kisah hidupnya mengajarkan nilai tentang dinamika keluarga, penghormatan terhadap tatanan adat, dan persatuan yang melintasi zaman.
Jejak di Dolok Imun
Raja Naipospos adalah putra dari Tuan Sorbadibanua (sering juga disebut Ompu Raja Nabolon). Dalam pembagian wilayah adat masa lampau, Raja Naipospos membuka perkampungan di Dolok Imun. Kawasan ini kini terletak di Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara.
Dolok Imun bukan sekadar lokasi geografis, melainkan bona pasogit (tanah asal) yang sakral bagi seluruh keturunan Naipospos. Di sinilah sang raja membesarkan anak-anaknya sebelum mereka menyebar ke Humbang dan wilayah lainnya.
Dinamika Dua Istri dan Urutan Kelahiran
Salah satu sisi paling menarik dari sejarah Raja Naipospos adalah kisah tentang kedua istrinya, yang merupakan kakak-beradik (marpariban) dari marga Pasaribu. Dari kedua istri inilah lahir lima putra yang menjadi cikal bakal marga-marga besar Naipospos.
Sejarah mencatat adanya dinamika unik mengenai urutan kelahiran versus urutan adat. Konon, istri pertama (boru Pasaribu yang tua) lama tidak memiliki keturunan, sehingga Raja Naipospos menikahi adiknya (istri kedua). Istri kedua kemudian melahirkan seorang putra bernama Marbun. Namun, tak lama berselang, istri pertama akhirnya mengandung dan melahirkan putra-putra lainnya.
Meskipun secara biologis ada versi yang menyebutkan Marbun lahir lebih dulu, Hukum Dalihan Na Tolu dan tatanan adat Batak menetapkan bahwa keturunan dari istri pertama (bolahan amak) memegang status siangkangan (sulung/abang).
Silsilah: Lima Putra, Menjadi Tujuh Marga
Berdasarkan tatanan adat yang dipegang teguh hingga kini, urutan putra Raja Naipospos adalah sebagai berikut:
1. Sibagariang (Donda Hopol) Putra sulung dari istri pertama. Keturunannya memegang status sebagai Hahadoli (abang tertua) dalam seluruh pomparan Raja Naipospos.
2. Hutauruk (Donda Ujung) Putra kedua dari istri pertama.
3. Simanungkalit (Ujung Tinumpak) Putra ketiga dari istri pertama.
4. Situmeang (Jamita Mangaraja) Putra keempat dari istri pertama.
5. Marbun (Lumban Batu, Banjar Nahor, Lumban Gaol) Putra tunggal dari istri kedua. Meskipun dalam urutan adat ia menempati posisi bungsu (Anggidoli), Marbun memiliki tiga orang putra yang masing-masing berkembang menjadi marga mandiri, yaitu:
- Marga Lumban Batu
- Marga Banjar Nahor
- Marga Lumban Gaol
Inilah yang mendasari sebutan "Silima Saama" (Lima anak satu bapak) namun melahirkan "Pitu Marga" (Tujuh marga: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, Lumban Batu, Banjar Nahor, Lumban Gaol).
Warisan Nilai: Sisada Anak, Sisada Boru
Hingga hari ini, ikatan persaudaraan di antara keturunan Raja Naipospos sangat kuat. Tugu Raja Naipospos yang berdiri megah di Dolok Imun menjadi simbol persatuan mereka.
Falsafah yang dipegang teguh adalah "Sisada anak, sisada boru". Artinya, tidak ada pembedaan kasih sayang dan tanggung jawab di antara sesama keturunan. Anak dari marga Hutauruk adalah anak bagi marga Marbun juga, demikian pula sebaliknya. Perselisihan mengenai siapa yang lebih tua secara biologis telah dilebur dalam kesepakatan adat untuk saling menghormati: yang muda menghormati yang tua, dan yang tua mengayomi yang muda.
Kisah Raja Naipospos adalah bukti bahwa dalam budaya Batak, struktur adat diciptakan bukan untuk memecah belah, melainkan untuk menciptakan harmoni dan tatanan sosial yang lestari hingga ribuan tahun.

